Tampilkan postingan dengan label WS. Rendra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WS. Rendra. Tampilkan semua postingan

Hai Kamu

Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Jakarta, 29 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Gerilya

GERILYA
          Tubuh biru
          tatapan mata biru
          lelaki berguling di jalan
          Angin tergantung
          terkecap pahitnya tembakau
          bendungan keluh dan bencana
          Tubuh biru
          tatapan mata biru
          lelaki berguling dijalan

          Dengan tujuh lubang pelor
          diketuk gerbang langit
          dan menyala mentari muda
          melepas kesumatnya

          Gadis berjalan di subuh merah
          dengan sayur-mayur di punggung
          melihatnya pertama

          Ia beri jeritan manis
          dan duka daun wortel

          Tubuh biru
          tatapan mata biru
          lelaki berguling dijalan

          Orang-orang kampung mengenalnya
          anak janda berambut ombak
          ditimba air bergantang-gantang
          disiram atas tubuhnya

          Tubuh biru
          tatapan mata biru
          lelaki berguling dijalan

          Lewat gardu Belanda dengan berani
          berlindung warna malam
          sendiri masuk kota
          ingin ikut ngubur ibunya


                  Siasat
                  Th IX, No. 42
                  1955

Sebotol Bir

SAJAK SEBOTOL BIR
Menenggak bir sebotol,
menatap dunia,
dan melihat orang-orang kelaparan.
Membakar dupa,
mencium bumi,
dan mendengar derap huru-hara.

Hiburan kota besar dalam semalam,
sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa !
Peradaban apakah yang kita pertahankan ?

Mengapa kita membangun kota metropolitan ?
dan alpa terhadap peradaban di desa ?
Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
dan tidak kepada pengedaran ?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
Kota metropolitan di sini,
adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
Australia, dan negara industri lainnya.

Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?
Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?
Kini telah terlantarkan.
Menjadi selokan atau kubangan.
Jalanlalu lintas masa kini,
mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
tidak untuk petani,
tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
tanpa ada daya untuk menciptakan.
Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ?
Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan……..
harus senantiasa menghasilkan….
Dan akhirnya memaksa negara lain
untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?
…………………………….

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ?
Apakah pemikiran ekonomi kita
hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ?
Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?
Apakah kita akan hanyut saja
di dalam kekuatan penumpukan
yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?
……………………………….

Kita telah dikuasai satu mimpi
untuk menjadi orang lain.
Kita telah menjadi asing
di tanah leluhur sendiri.
Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
dan menghamba ke Jakarta.
Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
dan menghamba kepada Jepang,
Eropa, atau Amerika.

Pejambon, 23 Juni 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

Sajak Seonggok Jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”

TAHANAN

TAHANAN
        Atas ranjang batu
        tubuhnya panjang
        bukit barisan tanpa bulan

        kabur dan liat
        dengan mata sepikan terali

        Di lorong-lorong
        jantung matanya
        para pemuda bertangan merah
        serdadu-serdadu Belanda rebah

        Di mulutnya menetes
        lewat mimpi
        darah di cawan tembikar
        dijelmakan satu senyum
        barat di perut gunung
        (Para pemuda bertangan merah
        adik lelaki neruskan dendam)

        Dini hari bernyanyi
        di luar dirinya
        Anak lonceng
        menggeliat enam kali
        di perut ibunya
        Mendadak
        dipejamkan matanya

        Sipir memutar kunci selnya
        dan berkata
        -He, pemberontak
        hari yang berikut bukan milikmu !

        Diseret di muka peleton algojo
        ia meludah
        tapi tak dikatakannya
        -Semalam kucicip sudah
        betapa lezatnya madu darah.

        Dan tak pernah didengarnya
        enam pucuk senapan
        meletus bersama


                    Kisah
                    Th VI, No 11
                    Nopember 1956